Posts Tagged 'Financial Advisor Adalah'

Financial Advisor Yang Menjadi Beban Team

Sudah baca artikel sebelumnya teman? saya harap kalian sudah membacanya secara menyeluruh. Financial Advisor bekerja setiap harinya dari pagi hingga sore dengan satu tujuan, bagaimana agar ia bisa closing, bagaimana agar ia bisa mendapatkan nasabah yang membutuhkan asuransi. Jika dari jam 9 pagi hingga jam 3 sore (bank tutup) FA belum juga mendapatkan nasabah atau dengan kata lain belum closing maka FA patut gelisah. Setiap sore FA wajib mengirimkan report melalui SMS ataupun report melalui BBM yang isinya berupa hasil pencapaian kerja harian kepada Area Sales Manager (ASM). Apa isi SMS atau BBM balasan dari ASM ketika FA tidak mencapai hasil alias 0 (nol) atau zero production?

“Nol lagi !!! apa saja kerjamu hari ini??? Perusahaan tidak membayarmu untuk duduk-duduk bersantai, kapan kamu bisa closing? jangan hanya menjadi beban team !” 

Bagaimana teman? sanggup mendapatkan SMS seperti itu? jika perasaan kalian tidak bergejolak membaca pesan diatas maka saya yakin pekerjaan ini cocok bagi kalian, mental kalian sudah cukup kuat untuk menerima tekanan. Teman, kerja sebagai FA memang tidak mudah, penuh dengan tekanan karena perusahaan tidak mentolerir FA Parasit yang hanya makan gaji buta alias kerja tanpa hasil. Jika setiap hari FA tidak mendapatkan nasabah baru dan dalam 1 bulan tidak mencapai target maka FA hanya akan menjadi beban bagi teamnya. ASM punya target, dari mana targetnya? dari FA yang berada dalam teamnya, jika kalian tidak produksi selain gaji dipotong kalian hanya akan menjadi beban bagi team. So, siap menjadi FA yang handal?

Iklan

Financial Advisor ‘Bunuh Diri’

Istilah yang begitu ekstrim yaitu ‘bunuh diri’ digunakan oleh Area Sales Manager (ASM) ketika ada Financial Advisor AXA Mandiri yang berada dalam timnya belum closing satu pun (nol/zero production) hingga minggu ketiga, istilah buhuh diri disini secara sederhana diartikan sebagai berkorban membuka polis asuransi untuk diri sendiri. Lalu kenapa dikatakan bunuh diri? tentunya ini negatif dan dapat menimbulkan perbedaan pendapat dari setiap orang yang membacanya. Saya tidak ingin membahas penggunaan istilah bunuh diri disini, yang pasti jika FA tidak bisa closing maka ia harus closing atas nama dirinya sendiri, FA seperti ini bisa dikategorikan sebagai FA yang menderita. Simak pernyataan ASM berikut ini.

ASM : “Bagaimana ini sudah minggu ketiga kok belum juga ada closing?”
FA : “Maaf bu, saya sudah berusaha tetapi belum ada hasil”
ASM : “Saya tidak mau tahu, pokoknya kamu harus closing untuk diri kamu sendiri”
FA : “Saya tidak ada uang bu”
ASM : ”Pakai gaji kamu !”
FA : “Kan belum gajian bu?”
ASM : ”Makanya hari ini closing, kalau gak besok kamu harus bunuh diri”
FA : ”Whattt?? Bunuh diri??!!”

Menurut ASM untuk menjual asuransi seorang FA harus memiliki asuransi terlebih dahulu, dengan itu FA secara tidak langsung akan lebih yakin dengan produk yang ia dijual. Dan jika hal ini terjadi maka Financial Advisor harus menyisihkan sebagian gaji per bulannya untuk membayar premi asuransi. Teman, untuk mencapai target memang sulit, tidak ada yang bilang pekerjaan sebagai sales itu mudah, maka dari itu pikirkan matang-matang sebelum bergabung dengan AXA Mandiri dan bekerja sebagai Financial Advisor agar kalian dapat bekerja secara maksimal tanpa harus menjadi beban tim ataupun ‘bunuh diri’.

Financial Advisor yang Menderita

Sejauh saya yakin kalian sudah mendapat begitu banyak gambaran tentang pekerjaan sebagai financial advisor dan jobdesk financial advisor setelah membaca blog ini dari awal. Regional Sales Manager (RSM) dalam meetingnya mengatakan bahwa “Hanya ada 3 jenis Financial Advisor AXA Mandiri, pertama FA biasa-biasa saja, FA luar biasa dan FA menderita”. Saya yakin anda pasti langsung bisa menebak perbedaan dari ketiga jenis FA yang disebutkan diatas, yups tepat sekali teman, semua itu dinilai berdasarkan pencapaian targetnya. Pada kesempatan kali ini saya akan memberikan gambaran tentang Financial Advisor yang menderita.

Ia bangun pagi, persis seperti pola ketika training di Jakarta, kemudian berusaha datang lebih awal dari staff bank agar bisa melakukan pendekatan dengan mereka, ia juga berusaha pulang paling akhir atau minimal bersamaan dengan staff bank agar dipandang rajin oleh kepala cabang, ia berusaha memberikan pertolongan kepada semua staff cabang, ia berusaha tersenyum dan memuji dengan tulus kepada setiap staff cabang, ia duduk dengan tenang di meja yang bertuliskan Financial Advisor dan berharap akan mendapatkan referensi nasabah (lead) dari staff cabang.

Setelah satu minggu pertama penempatan belum ada satupun lead yang ia dapatkan, ia pun mulai gelisah dan mencoba berusaha lebih keras menawarkan asuransi kepada nasabah yang datang ke bank dan juga ia tetap berusaha aktif melakukan pendekatan dengan staff cabang, memberikan gambaran benefit yang dapat diterima oleh staff cabang apabila memberikan lead kepadanya, ia juga mulai rajin mentraktir staff cabang, mulai dengan membelikan gorengan hingga j.co donuts. Ia pun tidak sungkan lagi menawarkan jasa mengantarkan staff cabang pulang kerumahnya dengan menggunakan kendaraannya sendiri.

Minggu kedua meskipun sedikit ia mulai mendapatkan lead namun belum juga closing, ia mulai berusaha lebih giat lagi, ia masuk ke ruangan marketing memohon kepada mereka agar bersedia mengajaknya ketika mereka keluar menemui nasabah atau mencari prospek nasabah, ia rela keluar bank siang hari ketika matahari begitu terik dan pulang sore hari melewati jam kerja pada umumnya.

Minggu ketiga sang FA sudah mulai depresi, kebingungan, merasa seperti orang bodoh yang duduk termenung di mejanya, pura-pura sibuk ketika kepala cabang lewat dihadapannya, pura-pura mencari barang di laci atau pura-pura mengetik sesuatu di komputernya, di minggu ketiga ini tekanan dari Area Sales Manager (ASM) sudah semakin besar, ia semakin gelisah ketika melihat kalender dan melihat teman-teman satu timnya sudah mulai mencapai target sedangkan ia masih nol (0) atau zero production.

Teman, bisa dibayangkan betapa menderitanya FA tersebut. Begitu merasa tertekan dan stress. Diperjalanan pulang dan pergi, ketika makan, sebelum tidur bahkan didalam mimpinya pun ia memikirkan target, sepanjang hari hanya ada target, target dan target dikepalanya. Kalau sudah seperti ini biasanya ASM akan mengeluarkan wasiat terakhir kepada sang Financial Advisor yang sedang menderita, ”Kamu terpaksa bunuh diri”.

Apa itu Financial Advisor AXA Mandiri?

financial advisorTeman, benar jika kalian mengartikan satu persatu kata Financial Advisor dengan kamus, Financial Advisor (FA) bisa diartikan Perencana Keuangan sedangkan AXA Mandiri adalah perusahaan gabungan dari AXA yaitu perusahaan Asuransi terkemuka di dunia dan Mandiri merupakan Bank terbesar di Indonesia saat ini yang memiliki lebih dari 1.200 cabang tersebar di seluruh Indonesia. FA nantinya akan ditempatkan di tiap-tiap cabang tersebut sebagai salah satu jalur distribusi ataupun pemasaran produk Asuransi dari AXA Mandiri.

Financial Advisor (FA) berperan penting sebagai ujung tombak perusahaan yang mencakup layanan sales dan service. Sales dimana FA bertugas untuk memasarkan /  menawarkan / menjual produk asuransi dari AXA Mandiri sedangkan Service dimana FA juga berperan dalam pelayanan klaim ataupun komplain asuransi dari nasabah AXA Mandiri.

Bagaimana teman, sudah mendapatkan sedikit gambaran tentang Financial Advisor AXA Mandiri? mungkin kalian masih bertanya-tanya dalam hati, apa bedanya Financial Advisor dengan Agen Asuransi? Untuk itu mari kita lanjutkan pembahasannya agar kalian mengetahui apa Beda Agen Asuransi dengan Financial Advisor.


Disclaimer

Blog ini dibuat pada bulan mei tahun 2012. Segala informasi dalam blog ini berdasarkan kondisi dan situasi pada bulan dan tahun tersebut. Perbedaan informasi dikemudian hari sangatlah mungkin terjadi. Untuk itu pembaca diharapkan untuk memastikan kembali informasi yang didapat dari blog ini.

Kategori